(kopi malam) dapur (raha)sia-sia?


Dapur (raha)sia-sia?

oleh : mufatis maqdum

kopi-malampng

Hari mulai gelap dan hujan turun saat ini membuat semakin mengantuk, akhirnya saya buat kopi panas, cocok sekali hujan di malam hari dilewatkan dengan secangkir kopi, sruputan pertama ini membuat kantuk dan lelah hilang. Tiba tiba saya teringat tadi pagi, waktu itu saya mengunjungi salah satu pelosok desa untuk bertemu dengan salah satu orang yang memproduksi krupuk yang sama pesis dengan yang diproduksi di rumah saya.

yang menarik dari pertemuan ini adalah, bagaimana kami saling bertukar informasi seputar teknik, mesin dan resep. Yang membuat saya tertegun adalah bagaimana dengan mudahnya informasi yang “biasanya” menjadi rahasia dapur suatu tempat produksi disitu tidak saya temukan sekat yang membatasinya.

Ketulusan dalam saling menolong mungkin itulah yang menjadi pondasi bagaimana rahasia itu menjadi “umum”. Keikhlasan seseorang dalam menuntun serta memberi bantuan kepada lainnya yang membutuhkan saya lihat sangat terang disitu, walaupun pada akhirnya mereka yang awalnya dibantu lalu melepaskan diri dan menjauh berdiri sendiri. Ya, inilah usaha, ini hanya sebuah bisnis, bagaimana dapat meraih keuntungan, bagaimana bisa tetap hidup di hari esok, namun biarlah saja mereka yang tetap berjalan pada jalan terakhir itu. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana awal dia bisa menjadi kloning Dan siapakah aktor di balik semua itu.

sederhana memang, resep tiap individu pastilah berbeda, ketika resep itu mendapat tempat di khalayak, resep itu akan dipertahankan, dalam mepertahankan itu setiap insan memiliki cara sendiri, ada yang merahasiakan dan ada yang terang terangan memberi cuma-cuma.

terlepas dari itu semua, semoga mereka yang sebenarnya menjadi aktor utama berdirinya panggung yang megah bisa mendapat sesuai dengan yang semestinya, tak pernah orang melihat akar, yang dilihat hanyalah buah, dan pada akhirnya akar itu akan membusuk hancur di kedalaman yang tidak pernah dilihat oleh siapapun.

Ternyata sekarang adzan isya sudah berkumandang, dan kopi sudah mulai dingin, sampai jumpa di kopi malam selanjutnya.

Categories: Wawasan | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: