JELAJAH JALANAN, Kembali Menyapa Pesona Pacitan


JELAJAH JALANAN, Kembali Menyapa Pesona Pacitan

29-30 OKTOBER 2012

Oleh: Mufatis Maqdum

 

 

Jawa Timur memiliki banyak pesona alam yang tidak kalah menariknya dengan lokasi lainnya di Indonesia khususnya di pulau Jawa sendiri, namun karena banyaknya kendala mulai moda transportasi hingga pola pengelolaan membuat potensi tersebut kurang banyak dilirik khalayak. Sadar akan semua ini, membuat dewasa ini potensi-potensi tersebut mulai banyak diolah dan dipromosikan sebagai salah satu aset kebanggaan daerah yang menjadi kekayaan nusantara ini dan dapat membantu laju perekonomian masyarakat.

Pacitan sebagai salah satu kabupaten di wilayah Jawa Timur yang terletak di paling ujung dan dikelilingi oleh pegunungan. Di bagian utara berbatasan dengan  kota “Reog” Ponorogo, di bagian Timur berbatasan dengan “Kota Keripik Tempe” kabupaten Trenggalek, di bagian selatan langsung berbatasan dengan samudra Hindia, dan di bagian barat berbatasan langsung dengan jawa tengah tepatnya kabupaten Wonogiri.

Setelah beberapa waktu lalu penulis diberi kesempatan mengunjungi Kota 1001 Goa atau Pacitan ini dan telah penulis muat sebagaimana ada dalam tulisan sebelumnya http://www.mufatismaqdum.wordpress.com/2012/01/27/pacitan-mengintip-surga-jawa-timur-yang-tersembunyi/ membuat penulis masih penasaran dengan banyaknya lokasi yang belum sempat penulis kunjungi di kota ini, hal inilah yang membuat kami ingin kembali mengunjungi kota yang berada di paling ujung Jawa Timur ini.

Sekian lama mengatur perjalanan kesana dengan salah seorang sahabat penulis yang sejatinya ia juga memiliki hobi travelling dan kebetulan dalam kesehariannya juga memiliki kesibukan di bidang tour&travel juga, akhirnya kamipun selesai membuat rencana perjalanan kami. Agak lama waktu yang kami butuhkan untuk mengatur jadwal ini karena kami merencanakan perjalanan kami nantinya dilaksanakan di waktu yang singkat namun dapat memperoleh banyak hal disana nantinya, kemudian dipilihlah keberangkatan kami di hari Senin tanggal 29 Oktober 2012 dan diperkirakan malam tanggal 30 Oktober atau maksimal dini hari 31 Oktober kami sudah sampai kembali karena kami masing-masing harus melanjutkan agenda rutinan harian kami.

 

Senin, 29 Oktober 2012

Setelah semua kebutuhan masuk dalam ransel, penulis segera bergegas menuju terminal Arjosari dengan menaiki sepeda motor. Begitu sampai di terminal, langsung motor penulis parkir di sekitar terminal Arjosari, tempat parkir motor di terminal ini banyak tersedia dan tergolong aman bagi motor anda, sangat cocok bagi anda yang terbiasa menggunakan jasa bus melalui terminal ini.

Setelah motor aman di tempat parkir sekitar terminal, langsung penulis berjalan kaki menuju terminal tempat pemberangkatan bus menuju Surabaya. Di tempat pemberangkatan, disana sudah terparkir bus Tentrem “SERA” non-AC jurusan Surabaya-Malang PP, biasanya kalau siang rasanya panas kalau naik bus yang non-AC, tapi karena hari sudah malam bus non-AC pun jadi pilihan karena lebih hangat meskipun banyak juga penumpang yang rela menunggu kedatangan bus yang AC.

Pukul 19:30 bus bertolak dari terminal Arjosari Malang menuju terminal Bungurasih Surabaya. Dengan membayar ongkos karcis sebesar Rp 10.000,- untuk tarif dari Malang ke Surabaya bis ekonomi yang penulis naiki, penulis bisa menikmati perjalanan menggunakan jasa angkutan ini dan perlu diketahui jika bis Tentrem “SERA” yang penulis naiki ini tergolong recommended, mulai dari kenyamanan gaya mengemudi, ketepatan waktu hingga laju kecepatan. Setelah itu penulis bergegas istirahat sekedar memejamkan mata untuk bekal menikmati perjalanan ke pacitan.

Nyenyak terlelap di bus, begitu bangun penulis melihat jam menunjukkan pukul 21:30 dan penulis ternyata sudah sampai terminal Bungurasih Surabaya. Turun dari bus langsung penuis menuju toilet dan menunggu teman penulis di yang akan bersama-sama ke Pacitan di ruang tunggu shelter baru terminal Bungurasih.

Setelah tiba teman penulis, langsung kami menuju tempat pemberangkatan bus yang akan kami naiki menuju langsung ke Pacitan yakni PO Aneka Jaya, dan ternyata bus yang akan kami naiki sudah parkir dahulu di pemberangkatan. Niat kami mencari duduk di depan ternyata tidak kesampaian karena bangku depan sudah terisi penuh lebih dahulu oleh penumpang lainnya, akhirnya kami berdua duduk di bangku paling belakang, dan beruntung waktu itu tidak ramai penumpang jadi bangku agak longgar dan bisa lebih nyaman meskipun kami duduk di bangku paling belakang, apalagi bus ini menggunakan mesin Hino RG body Sprinter keluaran karoseri Laksana.

Pukul 22:40 bus bertolak dari terminal Bungurasih Surabaya. Ongkos karcis dari Surabaya menuju Pacitan seharga Rp 40.000,- melalui jalur Surabaya – Madiun – Ponorogo – Pacitan, dan bagi anda yang ingin menggunakan jasa transportasi bus ini bisa naik pada jam tertentu yang dalam sehari ada 4x pemberangkatan, dari Surabaya pukul 08:34 – 13:09 – 17:53 – 22:40, sedangkan dari terminal Pacitan pukul 04:20 – 09:50 – 14:20 – 23:00. Selama perjalanan tidak ada hal yang menarik untuk diperhatikan karena kami duduk di bangku paling belakang sehingga tidak bisa mengamati jalanan secara langsung, hal ini membuat rasa kantuk semakin merajalela dan tak lama kemudian kami tertidur pulas.

Selasa, 30 Oktober 2012

Tak terasa tertidur pulas, penulis terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul 02:58, melihat di jalanan ternyata waktu itu kami sudah sampai kota yang terkenal dengan kesenian Reognya yakni kota Ponorogo. Hari yang sudah larut membuat jalan relatif sepi lancar, laju bus pun lebih stabil dan tak lama kemudian masuklah kami di jalanan Ponorogo-Pacitan yang melewati wilayah pegunungan dengan jalan yang berliku dan tak terasa tertidur pulas kembali hingga tak terasa pukul 04:27 kami sudah sampai di terminal Pacitan.

Sampai lokasi kami turun dari bus dan langsung menuju warung kecil di sekitar dalam terminal sekedar makan mie dan minum kopi untuk merilekskan dan menghangatkan badan setelah perjalanan kurang lebih sekitar 6 jam dari Surabaya menuju Pacitan.

Waktu yang kami miliki di Pacitan tidak panjang karena esok hari masih banyak kegiatan lain yang harus dikerjakan, karena itu siang kami harus sudah bertolak menuju Solo dan kembali ke Surabaya. Langsung saja kami menuju toilet dan musholla di terminal hingga seusai sholat subuh dan mandi, kami mulai mengatur rencana perjalanan kami agar dapat berjalan efektif dan efisien. Awalnya tujuan kami hanya menuju ke lokasi yang ada di sekitar kota Pacitan saja, namun rasanya sangat sayang sekali jika jauh-jauh kami datang kemari hanya mendapat sekitar kota saja tanpa mengunjungi lokasi menarik lainnya namun yang menjadi kendala lainnya adalah transportasi yang bisa kami gunakan. Setelah sedikit ngobrol dengan pemilik warung-warung di sekitar terminal, kami direkomendasikan untuk menggunakan jasa ojek yang bisa kami sewa seharian dengan objek yang bisa kami negosiasikan mengingat moda transportasi di Pacitan masih tergolong kurang memadai bagi mereka yang ingin wisata dengan model seperti kami yang tanpa memiliki kendaraan sendiri dan biaya lebih.

Oleh seseorang di sekitar terminal kami dipanggilkan salah seorang tukang ojek yang sudah terbiasa di sewa para pelancong untuk berwisata di kota ini dengan menggunakan jasanya dan tak lupa beliau memanggil salah seorang rekannya lagi karena kami membutuhkan dua motor. Setelah proses negoisasi akhirnya disepakati biaya tiap ojek sebesar Rp 100.000,- dengan rute yang akan kami tuju adalah Goa Gong – Pantai Klayar – Pantai Watukarung – Pantai Teleng Ria – Kediaman Presiden SBY di masa kecil dengan catatan kami sudah kembali di terminal Pacitan siang harinya.

Waktu yang kami miliki sangat sempit, sedang jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Kami segera bergegas menuju tujuan pertama kami yang menjadi ikon wisata andalan kota 1001 goa ini yakni Goa Gong. Dari terminal kami melewati jalan tembus yang relatif lebih dekat jaraknya sehingga dapat menyingkat waktu selain mumpung jalan masih sepi dan lancar karena hari masih pagi, berbeda ketika dulu penulis menuju goa Gong melewati jalan utama yang terasa sangat jauh, namun kali ini sekitar 30 menitan saja kami sudah sampai di lokasi.

Karena hari masih pagi, goa Gong masih sepi dan tutup. Jam kunjungan di goa ini sebagaimana tertera di loket adalah mulai pukul 07:00 WIB hingga pukul 17:00 WIB. tak lama kami menunggu loketpun dibuka dan kami langsung membeli tiket kemudian memasuki Goa, berikut sedikit informasi tentang goa Gong yang berhasil penulis himpun dari papan informasi.

 

Goa Gong merupakan ruangan mengkubah raksasa yang berarah barat-timur, dengan panjang 100 m, lebar 15-40, dan tinggi 20-30 m. Lorong pendek beratap rendah yang dipenuhi stalaktit menghubungkan mulut gua dengan ruangan turnggal tersebut.

Aneka jenis ornamen gua atau speleotem menghiasi setiap sudut ruangan. Di atap gua stalaktit menggantung bersama-sama dengan bentuk drapery lainnya. Beberapa stalaktit melembar menjuntai ke bawah sepanjang beberapa meter seperti tirai. Setempat terdapat stalaktit kecil yang bangunnya seperti lonceng atau shower-head. sebagian permukaan stalaktit ditumbuhi heliktit. Deretan stalaktit berarah baratlaut-tenggara menunjukkan keberadaan retakan yang memotong atap gua.

Flow stone dengan permukaannya yang dilapisi gurdam-mikro menunjukkan aliran air yang berjalan lambat. Permukaan stalakmit yang dilapisi flowstone menyebabkan ornamen menjadi seperti bertumpuk-tumpuk. Kolom yang merupakan gabungan antara stalaktit dan stalakmit sebagian masih aktif terbentuk.

Ragam hiasan gua itu merupakan hasil penghabluran-ulang larutan jenuh CaCO3 melalui beberapa cara. Setiap kumpulan ornamen gua diberi nama yang menarik, seperti Selo Jengger Bumi, Selo Paku Buwono, Selo Bantaran Angin, Selo Gerbang, Selo Citro Cipto Agung, Selo Adi Citro Buwono dan sebagainya.

Air perlokasi dan air rembasan yang terkumpul pada lekuk batuan membentuk kolam-kolam kecil. Beberapa mata air membentuk genangan permanen yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Gua Gong berkembang pada batu gamping Formasi Wonosari yang berumur Neogen, atau terbentuk antara 15-10 juta tahun. Pembentukannya diawali ketika batugamping mengalami karstifikasi, yaitu sejak terangkat dari dasar laut pada permulaan Kuarter atau sekitar 1,8 juta tahun lalu. Pelarutan yang difasilitasi oleh air dan retakan batuan selama pengangkatan berlangsung menyebabkan rongga pada batuan menjadi semakin besar. Selama kurun waktu geologi ratusan ribu tahun Gua Gong-pun akhirnya terbentuk.

Puas menikmati pesona goa Gong dan mengambil dokumentasi, kami bergeas kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan selanjutnya yang tak kalah menariknya yakni Pantai Klayar. Jalan yang dilalui dari goa Gong menuju pantai ini tidak berbalik namun searah, ini membuat rute kami lebih efisien sebagaimana telah kami rencanakan di awal.

Kondisi jalan yang kami lewati pada rute goa Gong hingga pantai Klayar masih bisa dibilang baik namun harus berhati-hati karena sempit dan berliku karena melewati hutan dan pegunungan. Sepanjang perjalanan kami melewati desa-desa kecil dan juga melewati sebuah goa yang ada di sisi jalan bernama goa Kalak, menurut informasi yang penulis dapat dari bapak ojek dulunya tempat ini sempat ramai dikunjungi wisatawan namun entah mengapa sekarang goa ini cenderung sepi dan tak jauh dari lokasi goa Kalak sampailah kami di Pantai Klayar.

Menuruni bukit menjelang masuk kawasan pantai, kami sudah disuguhi pemandangan sekitarnya yang cukup untuk membayar usaha kami menuju lokasi ini. Tidak salah teman penulis merekomendasikan kami untuk menuju pantai ini, karena selain indah pantai ini memiliki karakteristik yang unik. Di ujung timur bisa kita dapati karang besar yang bentuknya menyerupai Sphinx di Mesir sambil dihantam ombak laut selatan pulau Jawa, di ujung barat terdapat tebing tinggi diatasnya ada gazebo yang bisa digunakan menikmati laut dan pantai dari ketinggian tebing yang dibawahnya bisa kita nikmati deretan karang dengan deburan ganas ombak laut selatan yang di iringi suara khas seperti seruling hasil gejala alam yang membuat khas pantai ini dan dikenal dengan Seruling Samudra.

Berdasarkan informasi yang di dapat penulis, minatan situs pantai Klayar ini adalah bentang alam, litologi dan neotektonik, sedangkan karakteristik situs pantai ini adalah Pantai landai yang diisi oleh pasir putih, singkapan batu pasir gampingan berperairan sejajar dan batu gamping yang terkekarkan dan tersesarkan sea stack dan tafoni, efek pompa gelombang yang menghasilkan fenomena geiser (seruling samodera).

Sejenak kami menikmati dan mengabadikan dalam dokumentasi, kami segera bertolak menuju pantai Watukarung. Sangat kurang terasa waktu yang kami miliki untuk menikmati keindahan pantai ini, namun karena kami juga dikejar waktu, kami juga harus dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya, hingga sekitar jam setengah sembilan pagi kamipun berangkat langsung menuju pantai Watukarung yang juga searah menuju tujuan selanjutnya.

Kondisi jalanan menuju pantai Watukarung dari Pantai Klayar sangat memprihatinkan, jalan rusak dan makadam dimana-mana, jalanan berliku dengan tebing dan jurang dimana-mana, suasana yang cenderung sepi dan jauh dari perkampungan juga turut diperhatikan untuk keamanan. Akan sangat bagus jika diperbaiki dan ditambah papan penunjuk arah yang sangat minim karena hal ini dapat sangat membantu mereka yang ingin menjelajah Pacitan tanpa harus kembali ke jalan utama yang harus memutar jauh. Namun beruntung bapak ojek kami sudah hafal jalanan di sini sehingga kami lebih mudah mencapai lokasi selanjutnya.

Sekitar jam sembilan pagi sampailah kami di pantai Watukarung, pantai ini lebih kecil daripada pantai Klayar namun ombak disini lebih bersahabat. Di pantai ini terdapat tempat pelelangan ikan kecil, sehingga di pantai ini terdapat banyak kapal nelayan yang bersandar, hiruk pikuk aktifitas di tempat pelelangan ikan juga terlihat disini. Kami menuju warung kecil di sekitar situ untuk sekedar rehat setelah perjalanan tadi sambil minum kopi dan makan mie instan.

Di pantai ini kami tidak lama juga, seusai rehat di warung dan mengambil dokumentasi, kami langsung bergegas menuju pantai Teleng Ria. Kondisi jalan dari pantai Watukarung menuju Pantai Teleng Ria sangat mudah dan bagus, jauh bila dibandingkan dengan rute sebelumnya dari pantai Klayar menuju pantai Watrukarung. Sekitar 1 jam perjalanan sampailah kami di pantai Teleng Ria.

Pantai Teleng Ria ini letaknya di pusat kota, sehingga akses menuju pantai ini sangat mudah. Pantai ini juga sangat luas dan sudah dibangun banyak taman, wisata kuliner, penjualan souvenir hingga tempat pelelangan ikan yang lebih besar dari yang ada di pantai Watukarung.

Hari yang beranjak siang membuat suasana semakin panas, hal ini membuat kai juga tidak berlama-lama di pantai ini, hanya sekedar berkeling dan mengambi dokumentasi kami langsung bertolak menuju Rumah Kediaman Presiden SBY di masa kecilnya.

Lokasi Kediaman beliau tidak jauh dari lokasi pantai dan searah menuju ke terminal Pacitan. Hanya sekitar 5 menit dari Pantai Teleng Ria kami sudah sampai di Lokasi Kediaman beliau. Dan sesampainya disana kami tidak membuang waktu karena hari sudah siang, kami memasuki kediaman beliau dan mengambil dokumentasi kemudian langsung bertolak menuju terminal Pacitan.

Tepat pukul 11:30 kami sampai di terminal Pacitan. Kami menuju warung makan di sekitar terminal untuk mengisi perut sebagai bekal tenaga pejalanan kami selanjutnya. Saat kami makan kami diberi tahu oleh mandor bus aneka jaya, kalau mau ke Solo naik bus Aneka Jaya yang jam 12:40 karena bus itu baru dan ukurannya mini sehingga bisa lebih nyaman dan cepat sampai di Solo yang membutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Pacitan melewati Baturetno Wonogiri dengan jalanan yang mayoritas kecil. Waktu yang masih tersisa kami gunakan untuk mandi membersihkan badan dan menunaikan sholat sambil mengisi baterei handphone di warung sekitar, hingga tak lama kemudian datanglah bus yang kami tunggu memasuki area parkir pemberangkatan, langsung saja kami naik untuk mencari bangku dan posisi yang nyaman.

Tepat pukul 12:40, bus yang kami bertolak menuju solo dari terminal Pacitan. Ongkos karcis PO Aneka Jaya dari Pacitan dengan tujuan Solo via Baturetno adalah Rp 20.000,-. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan jalanan berliku di sisi tebing tepi laut ketika masih di sekitar Pacitan, masuk kawasan Wonogiri jalanan melewati bukit dan pegunungan, namun di pasar Baturetno bus sekitar pukul 14:20 kami sempat ngetem dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan, jalanan yang sempit namun tetap indah dengan pemandangan khas Gunung Gandul kami nikmati ketika di Wonogiri, masuk wilayah Solo jalanan mulai besar dan cenderung ramai apalagi kami memasuki wilayah Solo sore hari bersamaan orang pulang kerja membuat jalanan macet.

Sampai di terminal Tirtonadi Solo sekitar jam lima, kami segera menuju warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Puas makan, kami menuju toilet dan musholla dan kemudian menuju warung di dekat jalur pemberangkatan bus menuju Surabaya. Kami memesan kopi untuk menunggu bus sambil berbincang-bincang ringan di warung dengan beberapa kru bus Sumber Selamat atau Sugeng Rahayu, Mira dan Eka.

Tak lama kemudian masuk area parkir keberangkatan menuju Surabaya, PO Sugeng Rahayu W7035UZ, kami langsung menaiki bus yang tergolong baru ini dengan mesin Hino, Legacy keluaran karoseri Laksana. Mendapat tempat yang nyaman untuk perjalanan ke Surabaya, dan tak lama kemudian bus kami berangkat menuju terminal Bungurasih Surabaya.

Rabu, 31 Oktober 2012

Pukul 01.29 sampailah kami di terminal Bungurasih Surabaya, fisik yang sudah lelah dan rasa kantuk yang tak terbendung membuat penulis langsung menuju tempat pemberangkatan bus ke Malang, ada PO Zena AC Tarip Biasa yang parkir langsung penulis naiki. pukul 02:00 bus berangkat dan penulis langsung tidur nyenyak di dalamnya hingga tak terasa pukul 03:20 sudah sampai Terminal Arjosari Malang dan berakhirnya perjalanan kali ini. Syukur Alhamdulillah selamat sampai kembali.

==========================

Demikianlah catatan perjalanan yang dapat penulis sampaikan dalam tulisan singkat ini, semoga ada manfaatnya bagi khalayak, khususnya bagi anda yang ingin lebih jauh menyingkap kekayaan Nusantara. Bagi anda yang berminat mengunjungi Pacitan bisa menghubungi sahabat yang menemani penulis ini melalui jasa “Mayda Tour & Travel Organizer” atau via +6282131031828 fb http://www.facebook.com/mayda.tour, sahabat penulis ini juga melayani wisata ke seluruh Indonesia dan sering juga berkelana bersama dengan penulis sendiri ke berbagai tempat di Nusantara.

Akhirnya Tak lupa Penulis ucapkan terima kasih juga pada sahabat penulis dayat “Mayda Tour & Travel Organizer” yang menemani penulis mulai awal hingga akhir, Shelvia Majid teman penulis putri asli Lorok-Pacitan yang memberikan banyak rekomendasi dan arahan selama di Pacitan, kedua bapak ojek yang mohon maaf penulis lupa namanya namun sudah penulis dokumentasikan foto beliau, PO Selamat Group, PO Aneka Jaya, dan banyak pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Sampai jumpa di lain kesempatan “Kota 1001 Goa”.

Beberapa dokumentasi:

Categories: Jalan - Jalan | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

Post navigation

7 thoughts on “JELAJAH JALANAN, Kembali Menyapa Pesona Pacitan

  1. sheilvie

    bsok… kLo ke pacitan ag mampir mas

  2. Cak Dayat

    sip… next trip karimun jawa

  3. Pingback: EKSOTIK LOROK, ANTI BOSAN JELAJAH PACITAN – JAWA TIMUR – INDONESIA | Mufatis Maqdum

  4. Pingback: Selayang Pandang Pantai Pida’an, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia (2013) | Mufatis Maqdum

  5. Pingback: Jalan – Jalan Pacitan (3) | Mufatis Maqdum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: