SEKILAS TENTANG FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM


Falsafat sebagai pandangan hidup erat kaitannya dengan nilai tentang sesuatu yang dianggap benar. Jika falsafat itu dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangasa, maka mereka berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Disini falsafat sebagai pandangan hidup difungsikan sebagai tolok ukur bagi nilai-nilai tentang kebenaran yang harus dicapai.

Misalnya Amerika sebagai suatu bangsa menilai bahwa demokrasi sebagai pandangan hidup yang benar, maka mereka berusaha untuk membentuk pandangan hidup itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya Negara-negara yang menilai sosialisme sebagai pandangan hidup,  merekapun akan berupayamewujudkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam falsafat sosialisme dalam kehidupan di negaranya. Dan demikian pula masyarakat atau bangsa lain yang memiliki falsafat sebagai pandangan hidup.

Untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafat atau pandangan hidup dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya adalah melalui pendidikan. Dengan demikian suatu falsafat bagi masyarakat atau bangsa berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang dirancang.

Falsafat pendidikan islam terbentuk dari perkataan falsafat, pendidikan, dan islam. Penambahan kata islam di akhir gabungan kata tersebut dimaksudkan untuk membedakan falsafat pendidikan islam dari pengertian yang terkandung dalam falsafat pendidikan secara umum. Dengan demikian falsafat pendidikan islam mempunyai pengertian khusus yang ada kaitannnya dengan ajaran islam.

Adapun pengertian falsafat itu sendiri menurut asal katanya adalah “cinta akan kebenaran”, yang diambil dari kosa kata bahsa Yunani philos (cinta) dan Sophia (kebenaran) (Hasan Shadily, 1980). Yang dimaksud dengan “kebenaran” adalah kebenaran yang didasarkan atas penilaian menurut nalar manusia. Karena itu “kebenaran” menurut plato adan Aristoteles adalah apabila “ pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya” (Jujun, 1990). Socrates (470-399 SM) mengatakan berfalsafat merupakan cara berpikir yang radikal, menyeluruh dan mendasar (Jujun, 1990). Di zaman Socrates, di yunani, falsafat belum menjadi disiplin ilmu yang otonom melainkan merupakan suatu tata cara yang diaplikasikan dalam kehidupan. Falsafat adalah suatu cara hidup yang konkret, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan alam yang menyinari seluruh kehidupan manusia (Titus, Smith dan Nolan, 1984). Menurut Harold H.Titus, filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah control, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom). Dr. Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu member kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran

Falsafat pendidikan, menurut John Dewey adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran umum mengenai pendidikan (Imam Barnadib, 1982). Falsafat pendidikan kata Imam Barnadib, adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan dan merupakan penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan (Imam Barnadib, 1986). Lebih jauh, Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, melihat falsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan falsafat dalam pengalaman manusia yang disebut pendidikan (al-Syaibany, 1979). Secara rinci dikemukakan bahwa falsafat pendidikan merupakan usaha untuk mencari konsep-konsep di antara gejala yang bermacam-macam meliputi:

  1. Proses pendidikan sebagai rancangan yang terpadu dan menyeluruh.
  2. Menjelaskan berbagai makna yang mendasar tentang segala istilah pendidikan
  3. Pokok-pokok yang menjadi dasar dari konsep pendidikan dalam kaitannya dengan bidang manusia.

Hubungan antara pendidikan dan falasafat pendidikan menjadi sedemikian pentingnya, sebab ia menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan.falsafat pendidikan berperanan penting dalam suatu sistem pendidikan karena ia berfungsi sebagai pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan (al-Syaibany).  “selama timbul pertanyaan: ‘mengapa kita mengajar? Bagaimana kita mengajar?’, maka selama itu pula pendidikan akan tetap memerlukan falsafat pendidikan”, kata al-Syaibany (al-Syaibany, 1973).

Seperti diketahui bahwa pendidikan dalam arti yang luas adalah usaha untuk mengubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setia individu dalam suatu masyarakat (Hasan Langgulung, 1985). Dan proses seperti itu telah dilakukan manusia dari abad ke abad, menempuh alur perjalanan sejarah yang panjang dan berliku-liku. Pemikiran yang menyangkut bagaimana menciptakan suatu sistem pendidikan yang baik dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai telah dilakukan oleh para ahli didik di berbagai tempat di dunia. Pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan islam, dan islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Tapi ini tidak berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani atau akala atau ilmu ataupun segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya itu.

Sumber yang menjadi dasar kajian falsafat pendidikan islam adalah al-quran dan hadits. Kedua sumber ini menjadi landasan utama bagi pemikiran falsafat pendidikan islam. Adapun sumber lainnya terdiri atas ijma’ dan qiyas syar’I sebagai sumber sekunder. Sehubungan dengan hal itu, maka pada garis besarnya ada dua metode pokok dalam mempelajari falsafat pendidikan islam, yakni (1) Pendekatan terhadap wahyu; (2) Pendekatan sejarah. Falsafat pendidikan islam, seperti halnya falsafat pendidikan umum, juga harus mampu membuat suatu pedoman kepada-perancang-perancang dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran (al-Syaibany, 1973). Dalam rinciannya, falsafat pendidikan islam setidak-tidaknya harus mampu member manfaat bagi pendidikan islam berupa:

  1. Membantu para perancang dan pelaksana pendidikan dalam membentuk pemikiran yang benar terhadap proses pendidikan.
  2. Memberi dasar bagi pengkajian pendidikan secara umum dan khusus.
  3. Menjadi dasar penilaian pendidikan secara menyeluruh.
  4. Member sandaran intelektual, bimbingan bagi pelaksana pendidikan untuk mengahdapi tantangan yang muncul mdalam bidang pendidikan, sebagai jawaban dari setiap permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan.
  5. Memberikan pendalaman pemikiran tentang pendidikan dalam hubungannya dengan faktor-faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan lainnya (al-Syaibany, 1973).

Adanya ketentuan-ketentuan dasar wahyu yang dijadikan landasan pemikiran filsafat pendidikan islam ikut mempengaruhi dasar pandangan falsafat pendidikan islam itu sendiri sehingga falsafat pendidikan islam berbeda dari falsafat pendidikan lainnya (umum).  Falsafat pendidikan islam dalam kaitannya dengan pendidikan didasari oleh lima prinsip utama yaitu pandangan terhadap alam, pandangan terhadap manusia, pandangan terhadap masyarakat, pandangan terhadap pengetahuan manusia, pandangan terhadap akhlak (Hasan Langgulung, 1987). Secara rinci dasar filsafat islam pendidikan islam tersebut dikemukakan oleh Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany (al-Syaibany,1973) sebagai berikut:

  1. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan terhadap jagad raya, meliputi dasar pemikiran bahwa:
    1. Pendidikan dan tingkahlaku manusia serta akhlaknya selain dipengaruhi lingkungan social juga dipengaruhi lingkungan fisik (benda-benda alam).
    2. Lingkungan dan yang termasuk jagad raya adalah segala yang diciptakan Allah baik makhluk hidup maupun benda-benda alam.
    3. Setiap wujud (keberadaan) memiliki dua aspek yaitu materi dan ruh. Dasar pemikiran ini mengarahkan falsafat pendidikan islam menyusun konsep alam nyata dan alam ghaib, alam materi dan alam ruh, alam dunia dan alam akhirat.
    4. Alam senantiasa mengalami perubahan menuruti ketentuan-ketentuan aturan Penciptanya (Sunnatullloh)
    5. Keteraturan gerak alam merupakan bukti bahwa alam ditata dalam satu tatanan yang tunggal sebagai sunnat Allah.
    6. Alam merupakan sarana yangh disediakan bagi manusia untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
    7. Pencipta Alam (Allah) adalah wujud di luar alam, dan memiliki kesempurnaan serta terhindar dari segala cacat dan cela. Dengan demikian wujud Pencipta berbeda dan tidak sama dengan wujud ciptaan-Nya.
  2. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan terhadap manusia memuat pemikiran bahwa:
    1. Manusia adalah makhluk (ciptaan) Allah yang paling mulia, sesuai dengan hakikat kejadiannya.
    2. Manusia diberi beban sebagai khalifat (mandataris) Allah di bumi guna memakmurkannya.
    3. Manusia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, kemampuan belajar serta kemampuan untuk mengembangkan diri.
    4. Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi jasmani, rohani dan roh (tidak sama dengan roh atau jiwa).
    5. Manusia bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi genetika (faktor keturunan) dan lingkungan yang mempengaruhinya.
    6. Manusia memiliki faktor perbedaan individu.
    7. Manusia memiliki sifat fleksibilitas (keluwesan) dan memiliki kemampuan untuk mengubah serta mengembangkan diri.
  3. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan terhadap masyarakat, berisi pemikiran bahwa:
    1. Masyarakat merupakan kumpulan individu yang terikat oleh kesatuan berbagai aspek seperti tanah air, budaya, agama, tradisi dan lain-lainnya.
    2. Masyarakat islam memiliki identitas tersendiri yang secara prinsip berbeda dari masyarakat lainnya.
  4. Prinsip yang menjadi dasar pandangan  terhadap pengetahuan manusia, memuat pemikiran bahwa:
    1. Pengetahuan adalah potensi yang dimiliki manusia dalam upaya untuk meningkatkan kehidupan individu di masyarakan.
    2. Pengetahuan terbentuk berdasarkan kemampuan nalar manusia dengan bantuan pengindraan. Sumber pengetahuan adalah wahyu dan nalar.
    3. Pengetahuan manusia memiliki kadar dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan obyek, tujuan dan metodenya. Pengetahuan yang paling utama adalah pengetahuan yang berhubungan dengan Allah, perbuatan dan makhluk-Nya.
    4. Pengetahuan manusia pada hakikatnya adalah hasil penafsiran dan pengungkapan kembali terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan ciptaan Allah. Dengan demikian pengetahuan bukanlah hasil dari proses pemikiran manusia yang optimal secara murni.
    5. Pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti pengamatan langsung, penelitian, kajian terhadap peristiwa, rangkuman dari berbagai pendapat, ataupun melalui bimbingan ilahi.
    6. Pengetahuan yang hakiki adalah pengetahuan yang didasari oleh kaidah, karena dapat memberikan ketentraman batin. Sehubungan dengan hal itu maka pengetahuan yang bernilai adalah pengetahuan yang dapat dimanfaatkan.
  5. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan terhadap akhlak, berisi pemikiran bahwa:
    1. Akhlak merupakan kebiasaan, dalam artian bahwa akhlak dapat dibentuk melalui pembiasaan yang baik.
    2. Akhlak termasuk faktor yang diperoleh dan dipelajari
    3. Akhlak dipengaruhi oleh faktor waktu, tempat, situasi dan kondisi masyarakat, adat istiadat, sistem dan cita-cita (pandangan hidup). Dengan demikian akhlak tidak selalu terpelihara dari pengaruh keburukan dan kesalahan.
    4. Akhlak sesuai denga fitrah dan akal sehat manusia (common Sense)
    5. Akhlak mempunyai tujuan akhir yang sama dengan tujuan akhir ajaran agama yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup di duni dan di akhirat.
    6. Ajaran islam merupakan sumber-sumber nilai akhlak karena akhlak pada hakikatnya merupakan realisasi dari ajaran agam itu sendiri, yaitu bagaimana hidup beriman dan bertakwa.
    7. Akhlak berintikan tanggung jawab terhadap amanat Allah yang keabsahannya dinilaidari tingkat kemampuan untuk mengaplikasikanhubungan yang sebaik mungkin antarsesama manusia dan lingkungannya berdasarkan tuntunan ajaran agama.akhlak yang mulia (terpuji) merupakan tujuan akhir dari sikap hidup yang diinginkan.

Daftar Pustaka

Dr. Jalaluddin & Drs. Usman Said. FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM: Konsep Dan Perkembangannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1999.

Drs. H. A. Mustofa. FILSAFAT ISLAM. Bandung: CV. Pustaka Setia. 1997.

H. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry. DASAR-DASAR POKOK PENDIDIKAN ISLAM. Jakarta: PT Bulan Bintang. 1990.

Categories: Wawasan | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: