Analisis Wacana vs Analisis Wacana Kritis Plus Teun A. van Dijk (Discourse Analysis vs Critical Discourse Analysis with Teun A. Van Dijk model)


Discourse Analysis vs Critical Discourse Analysis with Teun A. Van Dijk model

 

Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besardari berbagai definisi, titik singgungnya adalah analisis wacanaa berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa. Bagaimana bahasa dipandang dalam analisis wacana? Disini ada beberapa perbedaan pandangan. Mohammad A. S. Hikam dalam suatu tulisannya telah membahas dengan baik perbedaan paradigma analisis wacanaa dalam melihat bahasa ini yang akan diringkas sebagai berikut.

Paling tidak ada tiga pandangan mengeneai bahasa dalam analisis wacanaa. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivme-empiris. Oleh kaum ini , bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek diluar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan memakaipenyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu cirri daripemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacanaa, konsekuensi logis dari pemahaman ini orangtidak perlu mengetahui makna-makna subjektif ataunilaiyangmendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantik. Oleh karena itu tata bahasa, kebenaran sintaksis adalah bidang utama dari aliran positivme-empiris tentang wacanaa. Analisis wacanaa dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacanaa lantas diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidakbenaran (menurut sintaksis dan semantik).

Pandangan kedua, disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme/positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacanaa serta hubungan-hubungan sosialnya. Dalam hal ini, seperti dikatakan A.S. Hikam, subjek memiliki kemampuan-kemampuan melakukan control terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacanaa. Bahasa dipahami dalam paradigm ini diatur dan dihidupkan oleh pernyatan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Oleh karena itu, analisis wacanaa dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membonhgkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacanaa adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan itu dilakukan diantaranya dengan memnempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara.

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Pandangan ini ingin mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Seperti ditulis A.S. Hikam, pandangan konstruktivisme masih belummenganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacanaa, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya. Hal inilah yang melahirkan paradigm kritis. Analisis wacanaa tidak dipusatkan pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada analisis konstruktivisme. Analisis wacanaa dalam paradigm ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat berhubungan dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. bahasa disini tidak difahami sebagai medium netral yang terletak diluar diri si pembicara. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi didalamnya. Oleh karena itu, analisis wacanaa dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa: batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacanaa, perspektif yang merti dipakai, topic apa yang dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacanaa melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. karena memakai perpektif kritis, analisis wacanaa kategori ketiga itu juga disebut sebagai analisis wacanaa kritis (Critical Discourse Analysis/CDA). Ini untuk membedakan dengan analisis wacanaa dalam kategori yang pertama atau kedua (Discourse Analysis).

Analisis wacana muncul sebagai suatu reaksi terhadap linguistik murni yang tidak bisa mengungkap hakikat bahasa secara sempurna. Dalam hal ini para pakar analisis wacana mencoba untuk memberikan alternative dalam memahami hakikat bahasa tersebut. Analisis wacana mengkaji bahasa secara terpadu, dalam arti tidak terpisah-pisah seperti dalam linguistik, semua unsure bahasa terikat pada konteks pemakaian. Oleh karena itu, analisis wacana sangat penting untuk memahamihakikat bahsa dan perilaku berbahasa termasuk belajar bahasa.

Analisis wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi. Stubbs (1983:1) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik lisan maupun tulis, misalnya pemakaian bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Selanjutnya stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankankajiannya pada penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam penggunaan bahasa antar penutur. Jadi jelasnya analisis wacan bertujuan untuk mencari keteraturan bukan kaidah. Yang dimaksud dengan keteraturan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan keberterimaan penggunaan bahasa di masyarakatsecara realita dan cenderung tidak merumuskan kaidah bahasa seperti dalam tata bahasa. Kartomiharjo (1999:21) mengungkap bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Analisis wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang persis sama atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis.

Berdasarkan analisisnya, cirri dan sifat wacana menurut syamsuddin (1992:6) analisis wacanadapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa didalam masyarakat (rule of use-menurut woddowson, 1978).
  2. Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks, dan situasi (Firth, 1957).
  3. Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantic (Beller).
  4. Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (what is said from what is done menurut Labov, 1970).
  5. Analisis wacana diarahkan kepada masalah memakai bahasa secara fungsional (functional use of language- menurut Coulthard, 1977).

Ciri-ciri dasar lain dapat diramu dari pendapat beberapa ahli, seperti merit, Sclegloff dan Sacls, Fraser, Searle, Richard, Halliday, Hasan, dan Horn, antara lain sebagai berikut. (Syamsuddin, 1992:6).

  1. Analisis wacana bersifat interpretative pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya (form and notion).
  2. Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap konteks dan pengetahuan yang luas (interpretation of world).
  3. Semua unsur yang terkandung di dalam wacana dianalisis sebagai suatu rangkaian.
  4. Wujud bahasa dalam wacana itu lebih jelas karena didukung oleh situasi yang tepat (All material used in real that is actually having occurred in appropriate situational).
  5. Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan, dan lain-lain.

Tokoh analisis wacana adalah Sinclair dan Coulthard (1979). Mereka meneliti wacana yang dibentuk dalam interaksi guru dan murid di kelas. Mereka merekam sejumlah peristiwa belajar-mengajar di sekolah dasar di Inggris. Menurut Coulthard (1997) analisis wacana dimulai oleh ide Firth yang mengungkap tentang linguistik kontekstual bahwa bahasa baru bermakna apabila berada dalam suatu konteks. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Brown dan Yule (1983:27-67) yang menyatakan bahwa dalam menginterpretasi makna sebuah ujaran perlu memperhatikan konteks, karena kontekslah yang akan memaknai ujaran.

Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk member penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya, dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari telah dipengaruhi oleh si penulis dari berbagai factor. Selain itu harus disadari pula bahwa dibalik wacana itu terdapatmakna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan.

Wacana adalah proses pengembangan dari komunikasi yang menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa di dalam system kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, eksistensinya ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, kepentingan-kepentingan, dan lain-lain.

Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.

Pemahaman mendasar analisis wacana adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi.

Analisis wacana kritis dalam lapangan psikologi sosial di-artikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud disini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana kritis adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap didalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana kritis.

Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah pendekatan yang relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari tradisi teori sosial dan analisis linguistik yang kritis. Hal ini dikemukakan oleh Barker dan Galasinski 2001; Fairclough 1995; Gavey 1997; Gray 1999, dan Hardy 2002; Philips dan Jorgensen 2002; Titscher, Meyer, Wodak dan Vetter 2000; Wodak dan Meyer 2001; Wood dan Kroger 2000. AWK mengkaji tentang upaya kekuatan sosial, pelecehan, dominasi, dan ketimpangan yang direproduksi dan dipertahankan melalui teks yang pembahasannya dihubungkan dengan konteks sosial dan politik AWK mungkin dilakukan dengan cara berbeda, tetapi sama semua variasi prosedur mempunyai beberapa tujuan dan asumsi. Penerapan beberapa disiplin sejauh ini seudah mencegah perspektif tunggal tetapi perspektif seperti itu mungkin tidak perlu, AWK berbeda dari tradisi lain seperti semiotika dan etnometodologi dalam menekankan analisis terhadap kekuasaan yang tidak terpisahkan dari hubungan sosial. AWK sudah ditegaskan sebagai kelompok gagasan atau motif berfikir yang bisa dikenali dalam teks dan komunikasi verbal, dan juga bisa ditemukan dalam struktur sosial yang lebih luas. AWK menyediakan wawasan kedalam bentuk pengetahuan dalam konteks yang spesifik. Selain itu, AWK menghasilkan klaim interpretif dengan memandang pada efek kekuasaan dari wacana dalam kelompok-kelompok orang, tanpa klaim yang dapat digeneralisasikan pada konteks lain. Dasar teoritis untuk AWK didasarkan pada beberapa perkembangan sejarah dalam filsafat, ilmu pengetahuan, dan teori sosial. Sebagai suatu pendekatan pada analisis yang sistematik dalam pembentukan pengetahuan (wacana), AWK mengambil bagian dibeberapa tradisi pemikiran barat. Tradisi ini banyak dipengaruhi perkembangan analisis Foucaultian. Pengaruh teoritis yang utama atas metode ini adalah teori sosial yang kritis, kontra-fondasionalisme, posmodernisme, dan feminisme.

Dalam AWK, wacana tidak semata-mata dipahami sebagai studi bahasa. Pada akhirnya, memang analisis wacana kritis menggunakan bahasa dalam teks yang dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis dalam AWK berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa yang dianalisis oleh AWK bukan menggambarkan aspek bahasa saja, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks dalam hal ini berarti bahasa dipakai untuk tujuan tertentu termasuk didalamnya praktik kekuasaan.

Menurut Fairclough dan Wodak (1997) AWK melihat pemakaian bahasa baik tuturan maupun tulisan yang merupakan praktik dari bentuk sosial. Menggunakan bahasa sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialeksis di antara peristiwa deskriptif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi. Wacana ini dapat memproduksi dan  mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas melalui perbedaan representasi dalam posisi sosial yang ditampilkan. Keadaan yang rasis, seksis, atau ketimpangan dari kehidupan sosial dipandang sebagai suatu common sense, suatu kewajiban atau alamiah, dan memang seperti itu kenyataannya (van Dijk, 1997: 258). AWK melihat bahasa sebagai fakta penting, yaitu bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan-ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat. perlu kita ketahui bahwa bahasa merupakan salah satu akar permasalahan secara keseluruhan, maka pengkajian aspek linguistik terhadap bahasa adalah penting. Dalam AWK struktur linguistik digunakan untuk (1) menyistemasikan, mentransformasikan, dan mengaburkan analisis realitas, (2) mengatur ide dan perilaku orang lain, serta (3) menggolong-golongkan masyarakat. untuk merealisasikan tujuan-tujuan diatas, teks AWK menggunakan unsure kosakata, gramatika, dan struktur tekstual sebagai bahan analisisnya.

Teun A. van Dijk (1998) mengemukakan bahwa “AWK digunakan untuk menganalisis wacana-wacana kritis, diantaranya politik, ras, gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain”. Selanjutnya Fairclough dan Wodak (1997: 271-280) meringkas tentang prinsip-prinsip ajaran AWK sebagai berikut:

  1. Membahas masalah-masalah sosial
  2. Mengungkap bahwa relasi relasi kekuasaan adalah diskursif
  3. Mengungkap budaya dan masyarakat
  4. Bersifat ideologi
  5. Bersifat historis
  6. Mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat
  7. Bersifat interpretatis dan eksplanatori.

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan. Petama, struktur makro. Ini merupaka makna global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topic atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka sutau teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secar utuh. Ketiga, struktur mikro. Adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.

Menurut Van Dijk, meskipun terdiri dari atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks, pada akhirnya pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat ilustrasi pemberitaan kasus Maluku. Misalnya Koran A mengatakan bahwa kasus ini karena pertentangan antar agama. Tema ini akan didukung oleh skematik tertentu. Misalnya dengan menyusun cerita yang mengandung gagasan tersebut. Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan peritiwa tersebut semata pada masalah konflik antara islam dan Kristen. Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk  dan memperkuat pesan bahwa peristiwa Maluku semata kasus agama. Menurut Littejohn, antar bagian teks dan model Van Dijk dilihat saling mendukung, mengandung arti yang koheren satu sama lain. Hal ini karena semua teks dipandang van dijk memiliki suatu aturan yang dapat dilihat sebagai suatu piramida. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat dan proposisi yang dipakai. Pertanyaan/tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu. Proses ini membantu peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak Cuma mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput oleh media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa kedalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu. Kalau digambarkan maka struktur teks adalah sebagai berikut:


 

Struktur Makro

Makna global dari suatu teks yang dapat diamati

Dari topic/tema yang diangkat oleh suatu teks

Superstruktur

Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan,

Isi, penutup, dan kesimpulan

Struktur Mikro

 

Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati

Dari pilihan kata, kalimat dan gaya

yang dipakai oleh suatu teks

 

Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi-suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kata-kata tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk kesadaran politik, dan sebagainya. Berikut akan diuraikan satu persatu elemen wacanaa van Dijk tersebut:

STRUKTUR

WACANAA

HAL YANG DIAMATI

ELEMEN

Struktur Makro

Tematik

Tema/Topik yang dikedepankan dalam suatu berita

 

 

 

Topik

Superstruktur

Skematik

Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalam teks utuh

 

 

 

Skema

Struktur Mikro

Semantik

Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita, missal dengan member detil pada satu sisiatau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi detil sisi lain.

 

Sintaksis

Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih.

 

Stilistik

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita.

 

Retoris

Bagaimana dan dengan cara penekanan dilakukan.

 

 

Latar, detil, maksud, pra-anggapan, nominalisasi

 

 

Bentuk kalimat, Koherensi, Kata ganti.

 

 

Leksikon

 

 

 

Grafis, Metafora, Ekspresi.

 

 

 

Dalam pandangan van Dijk, segala teks bisa dianalisis dengan menggunakan elemen tersebut. Meski terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, “Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacanaa, Analisis Semiotik dan Analisis Framing”, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2009.

Eriyanto, “Analisis Wacanaa: Pengantar Analisis Teks Media”, Yogyakarta, LKiS, 2009.

Mohammad A.S. Hikam, “Bahasa dan Politik: Penghampiran Discursive Practice”, dalam Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim (ed), Bahasa dan kekuasaan: Politik Wacanaa di Panggung Orde Baru, Bandung, Mizan, 1996.

Yoce Aliah Darma, “Analisis Wacana Kritis” Bandung, Yrama Widya, 2009.

 

STRUKTUR

WACANAA

HAL YANG DIAMATI

ELEMEN

Struktur Makro

Tematik

Tema/Topik yang dikedepankan dalam suatu berita

 

 

 

Topik

Superstruktur

Skematik

Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalam teks utuh

 

 

 

Skema

Struktur Mikro

Semantik

Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita, missal dengan member detil pada satu sisiatau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi detil sisi lain.

 

Sintaksis

Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih.

 

Stilistik

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita.

 

Retoris

Bagaimana dan dengan cara penekanan dilakukan.

 

 

Latar, detil, maksud, pra-anggapan, nominalisasi

 

 

Bentuk kalimat, Koherensi, Kata ganti.

 

 

Leksikon

 

 

 

Grafis, Metafora, Ekspresi.

 

Categories: Wawasan | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Analisis Wacana vs Analisis Wacana Kritis Plus Teun A. van Dijk (Discourse Analysis vs Critical Discourse Analysis with Teun A. Van Dijk model)

  1. bagus ini, lagi butuh… maturnuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: