HIPOTESIS SAPIR – WHORF DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA-BAHASA DI INDONESIA


Oleh: Mufatis Maqdum

ABSTRAK

 

Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial, psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.

Edward Sapir (1939 – 1884) adalah  seorang linguis Amerika, sedangkan Benjamin Lee Whorf (1941 – 1897) adalah salah seorang murid Edward Sapir. Mereka berdua sangat memahami konsep-konsep linguistik yang dikemukakan sarjana-sarjana Eropa. Sapir dan Whorf memiliki hipotesis yang dikenal dengan nama hipotesis Sapir-Whorf. Di dalam hipotesis itu dikemukakan bahwa bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menetukan cara dan jalan pikiran manusia; dan oleh karena itu memepengaruhi pula tindak lakunya.

kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara sangatlah penting disamping karena fungsi yang diembannya yang mencakup beberapa hal seperti; sebagai  bahasa resmi dalam penyelnggaraan kehidupan negara dan pemerintahan, bahasa pengantar pada semua jenis dan jenjang pendidikan, bahasa perhubungan nasional, sarana pengembangan ipteks, dan sarana pengembangan kebudayaan.

Dalam kaitannya dengan hipotesis Sapir-Whorf dalam bahasa-bahasa di indonesia, bahwasannya bahasa dipandang berpengaruh besar terhadap kultur dan menjadi penentu cara berpikir individu-individunya, serta bahasa berpengaruh besar terhadap kebudayaan dan menentukan wujud-wujud dari kebudayaannya, dan juga terdapat pula beberapa sikap budaya yang erat kaitannya dengan sikap bahasa, dimana sikap bahasa itu boleh dikatakan terjabar dari sikap budaya, maka dari sini dapat dibuat pelajaran dan evaluasi supaya dapat dikembangkan dan dikukuhkan agar menjadi menjadi ciri jati diri warga negara Indonesia.

kata kunci: Psikolinguistik, Sapir, Whorf, Bahasa Indonesia.

 


 

  1. A.    PENDAHULUAN

Betapa pentingnya bahasa bagi manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Hal itu tidak saja dapat dibuktikan dengan menunjuk pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dapat juga dibuktikan dengan menunjuk banyaknya perhatian para ilmuwan dan praktisi terhadap bahasa[1].

Bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia karena dengan bahasa manusia bisa menemukan kebutuhan mereka dengan cara berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Sebagai anggota masyarakat yang aktif dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat bergantung pada penggunaan bahasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa dimana ada masyarakat di situ ada penggunaan bahasa. Dengan kata lain di mana aktivitas terjadi, di situ aktivitas bahasa terjadi pula[2]. Setiap bahasa dari satu masyarakat telah “mendirikan” satu dunia tersendiri untuk penutur bahasa itu. Jadi, berapa banyaknya masyarakat manusia di dunia ini adalah sama banyaknya dengan jumlah bahasa yang ada di dunia ini[3].

Harus dipahami terlebih dahulu bahwa bahasa, budaya, masyarakat, merupakan tiga entitas yang bertautan erat. Rentangan perbendaharaan leksikon bahasa dalam suatu masyarakat, berkaitan erat dengan kelaziman-kelaziman, segala tata adat, dan tata aturan yang berlaku dalam wahana kebudayaan masyarakat bersangkutan. Panjang pendeknya rentangan leksikon bahasa suatu masyarakat menjadi penanda dan cerminan kualitas kebudayaan dari masyarakatnya. Barangkali benar apa yang pernah dikatakan oleh Sapir-Whorf, begawan-begawan linguistik ternama Amerika bahwa aturan-aturan kebahasaan dan gramatika bahasa menentukan cara pandang warga masyarakat bahasa itu terhadap dunia di sekitarnya[4].

  1. B.     BAHASA

Istilah bahasa dalam bahasa Indonesia, sama dengan languange dalam bahasa Inggris, taal dalam bahasa Belanda, sprache dalam bahasa Jerman, langue dalam bahasa Prancis, lingua dalam bahasa Itali, lengua dalam bahasa Spanyol, lingua dalam bahasa Latin, kokugo dalam bahasa jepang, lughatun dalam bahasa Arab, dan bhasa dalam bahasa Sansekerta[5].

Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan antar anggota. Untuk keperluan itu digunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa[6]. Para linguis biasanya memberikan batasan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi serta mengidentifikasikan diri[7].

Menurut teori struktural, bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbitrer yang konvensional. Berkaitan dengan ciri sistem, bahasa bersifat sistematik dan sistemik. Bahasa bersifat sistematik karena mengikuti ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah yang teratur. Bahasa juga bersifat sistemik karena bahasa itu sendiri merupakan suatu sistem atau subsistem-subsistem[8].

Bahasa dipergunakan oleh manusia dalam segala aktivitas kehidupan. Dengan demikian, bahasa merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia[9]. Pada hakikatnya berbahasa merupakan suatu kegiatan alamiah yang sama halnya dengan bernapas yang kita tidak memikirkannya. Akan tetapi, bila kita pikirkan seandainya kita tidak berbahasa, dan kita tidak melakukan tindak berbahasa, maka identitas kita sebagai “genius manusia” (homosapiens) akan hilang karena bahasa mencerminkan “kemanusiaan”, yang paling membedakan kita dari makhluk lain ialah bahwa kita mempunyai bahasa[10].

Bahasa tidak terpisahkan dari manusia dan mengikuti di dalam setiap pekerjaannya. Mulai saat bangun pagi-pagi sampai jauh malam waktu ia beristirahat, manusia tidak lepasnya memakai bahasa, malahan pada waktu tidurpun tidak jarang ia “memakai bahasanya”. Pada waktu manusia kelihatan tidak berbicara, pada hakekatnya ia masih juga memakai bahasa, karena bahasa ialah alat yang dipakainya untuk membentuk pikiran dan perasaanya, keinginan dan perbuatan-perbuatan; alat yang dipakainya untuk mempengaruhi dan dipengaruhi, dan bahasa adalah dasar pertama-tama dan paling berurat-berakar daripada masyarakat manusia. Bahasa adalah tanda yang jelas daripada kepribadian, yang baik maupun yang buruk; tanda yang jelas daripada keluarga dan bangsa; tanda yang jelas daripada budi kemanusiaan. Dari pembicaraan seseorang kita dapat menangkap tidak saja keinginannya, tetapi juga motif keinginannya, latar belakang pendidikannya, pergaulannya, adat istiadatnya, dan lain sebagainya[11].

  1. C.    PSIKOLINGUISTIK

Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur  dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materialnya berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannya juga berbeda[12].

Psikolinguistik merupakan ilmu interdisipliner linguistik dengan psikologi. Objek kajian studi psikolingusitik, diantaranya adalah ialah proses perkembangan bahasa pada anak-anak, proses belajar mengajar bahasa, proses terjadinya percampuran pemakaian bahasa oleh orang yang menguasai dua bahasa atau lebih. Dalam psikolinguistik bahasa dilibatkan pada masalah pengaruh proses psikis terhadap pelaksanaan bahasa[13].

Meskipun cara dan tujuannya berbeda tetapi banyak juga bagian-bagian objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama tetapi dengan teori yang berlainan. Hasil kajian kedu disiplin ini pun banyak yang sama, meskipun tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itulah, telah lama dirasakan perlu adanya kerjasama diantara kedua disiplin ini untuk mengkaji bahasa dan hakikat bahasa. Dengan kerja sama kedua disiplin itu diharapkan akan diperoleh hasil kajian yang lebih baik dan lebih bermanfaat[14].

Istilah psikolinguistik mulai muncul dan popular pada tahun 1954 dalam buku Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood yang berjudul Psycholinguistik: A Survey of Theory and Research Problems. Pada awal perkembangannya, psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dan dilanjutkan dengan adanya kerjasama yang sinergis antar pakar linguistik dan psikologi, hingga kemudian muncullah pakar-pakar psikolinguistik sebagai disiplin ilmu yang mandiri[15].

Secara formal kelahiran psikolinguistik sebenarnya ditandai dengan dibukanya satu program khusus psikolinguistik pada tahun 1953 oleh R. Brown. Sarjana pertama (Ph.D) yang dihasilkan oleh program ini adalah Eric Lenneberg yang sangat besar perannya dalam bidang psikolinguistik. Kalau pada awal perkembangannya banyak pakar psikologi yang “rindu” pada linguistik, dan banyak pakar linguistik yang berminat pada psikologi; lalu kemudian banyak kerja sama antar pakar linguistik dan psikologi untuk menelaah masalah keberbahasaan, maka dalam periode ini banyak pakar yang tidak merasa lagi sebagai ahli linguistik atau ahli psikologi, melainkan dirinya sudah sebagai pakar psikolinguistik[16].

Pada awalnya kerjasama antara kedua disiplin itu disebut linguistik psychology dan ada juga yang menyebutnya psychology of language. Kemudian sebagai hasil kerja sama yang lebi baik, lebih terarah, dan lebih sistematis diantara kedua ilmu itu, lahirlah satu disiplin ilmu baru yang disebut psikolinguistik, sebagai ilmu antar disiplin antara psikologi dan linguistik. Istilah psikolinguitik itu sendiri baru lahir tahun 1954, yakni tahun terbitnya buku Psycholinguistik : A Survey of Theory and Research Problems yang disunting oleh Charles E. Osgood dan Thomas A. Sebeok, di Bloomington, Amerika Serikat[17].

Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbhasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cahazu, 1973). Maka secara teortis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bias diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat stuktur bahasa, dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam penuturan itu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguitik dan psikologi pada masalah-masalah seperti pengajaran, pembelajaran bahasa pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemulti bahasaan, penyakit bertutur seperti afasia, gagap dan sebagainya; serta masalah social lain yang menyangkut bahasa. Seperti bahasa dan pendidikan, bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa[18].

Kerjasama antara psikologi dan linguistik setelah beberapa lama berlangsung tampaknya belum cukup untuk dapat menerangkan hakikat bahasa seperti tercermin dalam definisi di atas. Bantuan dari ilmu-ilmu lain sangat diperlukan, seperti neurofisiologi, neuropsikologis, neurolinguistik, dan sebagainya. Maka meskipun digunakan istilah psikolinguistik, bukan berarti hanya kedua bidang ilmu itu saja yang diterapkan, tetapi juga hasil penelitian dari ilmu-ilmu lain pun dimanfaatkan[19].

 

  1. D.    SAPIR – WHORF

Edward Sapir (1884 – 1939) adalah  seorang linguis Amerika yang dihormati dan disegani. Dia juga sangat memahami konsep-konsep linguistik yang dikemukakan sarjana-sarjana Eropa. Benjamin Lee Whorf (1897 – 1941) adalah salah seorang murid Edward Sapir. Pada mulanya dia bukanlah seorang profesional dalam kajian psikolinguistik, tetapi kemudian giat mempelajari linguistik dan memberikan pendapat-pendapatnya yang telah memeperkaya pikiran-pikiran mengenai linguistik. Dia dan gurunya, Edward Sapir, banyak mempelajari bahasa-bahasa orang indian, dan menuliskan hasil penelitiannya secara luas[20].

  1. E.     HIPOTESIS SAPIR – WHORF

Bahasa dipandang saling berpautan dengan kebudayaan, sudah sejak sangat lama dibincangkan orang. Demikianpun fakta bahwa bahasa, budaya, dan cara berpikir seseorang dianggap bertali-temali erat, sudah lama diperdebatkan banyak kalangan[21].

Pandangan yang ditarik dari postulasi hipotesis kebudayaannya Sapir-Whorf, yang lantas dikenal dengan teori relativitas dan determinasi kebudayaan. Dengan hipotesisnya itu, Sapir-Whorf mempostulasikan, bahwa bahasa berpengaruh besar terhadap kebudayaan. Di dalam banyak hal, bahasa menentukan wujud-wujud dari kebudayaannya. Bahasa dipandang berpengaruh besar terhadap kultur yang mewadahi lantaran bahasa menjadi penentu cara berpikir individu-individunya. Kreatif tidak kreatifnya setiap warga masyarakat, sangat dipengaruhi oleh sosok bahasa yang dikuasainya. Gagasan inilah yang kemudian dikenal sebagai versi lemahnya teori kebudayaan Sapir-Whorf. Adalah yang dianggap versi kuatnya adalah, bahwa bahasa tidak saja berpengaruh terhadap cara berpikir warga masyarakat, tidak saja memiliki sumbangan minimal terhadap wujud kebudayaan yang mewadahinya, tetapi lebih dari semua itu bahasa sebagai penentu pokoknya wujud-wujud kebudayaan[22].

Bahasa menentukan corak suatu masyarakat, ataukah masyarakat menentukan corak suatu bahasa. Pada umumnya orang lebih cenderung untuk memilih gagasan yang kedua. Akan tetapi lain halnya dengan Whorf dan Sapir. Dua ahli ini menentukan suatu hipotesis yang terkenal dengan nama “Hipotesis Whorf-Sapir”. Menurut hipotesis ini bahasalah yang menentukan corak suatu masyarakat[23].

Di dalam hipotesis itu dikemukakan bahwa bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menetukan cara dan jalan pikiran manusia; dan oleh karena itu memepengaruhi pula tindak lakunya. Dengan kata lain, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari bangsa yang lain, akan memepunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Jadi, perbedaan-perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia itu bersumber dari perbedaan bahasa, atau tanpa adanya bahasa manusia tidak dapat mempunyai jalan pikiran sama sekali. Kalau bahasa itu mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka ciri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap dan budaya penuturnya[24].

Edward Sapir (1884 – 1939) linguis Amerika memiliki pendapat yang hampir sama dengan Von Humboldt. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini dibawah “belas kasih” bahasanya yang telah menjadi alat pengantar dalam kehidupannya bermasyarakat. Menurut Sapir telah menjadi fakta bahwa suatu masyarakat sebagian “didirikan” di atas tabiat-tabiat dan sifat-sifat bahasa itu. Karena itulah, tidak ada dua buah bahasa yang sama sehingga dapat dianggap mewakili satu masyarakat yang sama[25]. Dengan tegas Sapir juga mengatakan apa yang kita lihat, kita dengar, kita alami, dan kita perbuat sekarang ini adalah karena sifat-sifat (tabiat-tabiat) bahasa kita telah menggariskannya terlebih dahulu[26].

Benjamin Lee Whorf (1897 – 1941), murid Sapir, menolak pandangan klasik mengenai hubungan bahasa dan berpikir yang mengatakan bahwa bahasa dan berpikir merupakan dua hal yang berdiri sendiri-sendiri. Pandangan klasik juga mengatakan meskipun setiap bahasa mempunyai bunyi-bunyi yang berbeda-beda, tetapi semuanya menyatakan rumusan-rumusan yang sama yang didasarkan pada pemikiran dan pengamatan yang sama. Dengan demikian semua bahasa itu merupakan cara-cara pernyataan pikiran yang sejajar dan saling dapat diterjemahkan satu sama lain[27].

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf adalah ahli linguistik yang mempunyai hipotesis kira-kira berbunyi demikian: bahasa ibu (native languange; mother tongue) seorang penutur membentuk kategori-kategori yang bertindak sebagai sejenis jeruji (kisi-kisi). Melalui kisi-kisi itu si penutur melihat “dunia luar” (dunia di luar dirinya). Karena “penglihatan” si penutur terhalang oleh kisi-kisi, pandangannya ke dunia luar menjadi seolah-olah diatur oleh kisi-kisi itu. Kisi-kisi itu memaksa si penutur menggolong-golongkan dan membentuk konsep tentang berbagai gejala dalam dunia luar itu berdasarkan bahasa ibunya. Dengan demikian maka bahasa ibu dapat mempengaruhi bahkan mengendalikan pandangan penutur-penuturnya terhadap dunia luar[28].

Hipotesis Sapir – Whorf ini yang menyatakan perbedaan berpikir disebabkan oleh adanya perbedaan bahasa ini, akan menyebabkan orang Arab akan melihat kenyataan (realitas) secara berbeda dengan orang Jepang, sebab bahasa Arab tidak sama dengan bahasa Jepang. Whorf menegaskan realitas itu tidaklah terpampang begitu saja di depan kita, lalu kemudian kita memeberinya nama satu per satu. Yang terjadi sebenarnya menurut Whorf adalah sebaliknya, kita membuat peta realitas itu, yang dilakukan atas dasar bahasa yang kita, dan bukan atas dasar realitas itu. Umpamanya jenis warna di seluruh dunia ini sama, tetapi mengapa setiabangsa yang berbeda bahasanya melihat sebagai sesuatu yang berbeda. Orang Inggris misalnya, mengenal warna dasar white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, dan grey; tetapi penutur bahasa Hunaco di Filipina hanya mengenal empat warna saja, yaitu mabiru, hitam dan warna gelap lain’, melangit ‘putih dan warna merah cerah’, meramar kelompok warna merah’, dan malatuy ‘kuning, hijau muda, dan coklat muda’[29].

Meskipun gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh Sapir dan Whorf adalah hasil penelitian yang lama dan dikemukakan dalam karangan yang bobot ilmiahnya sangat tinggi, ternyata gagasan mereka yang disebut dalam hipotesisnya sangat kontroversial dengan pendapat sebgaian besar sarjana[30].

  1. F.     GAMBARAN HIPOTESIS SAPIR-WHORF DALAM BAHASA-BAHASA DI INDONESIA

Bahasa Indonesia menempati kedudukan yang fundamental, hal ini membuat secara konstitusional dengan didudukkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Dalam UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, dan UUDS 1950, pemberlakuan kembali UUD 1945 tahun 1959, hingga UUD 1945 yang diamandemen kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa negara tidak berubah. Dinamika fungsi yang diembannya mencakup lima butir, yakni sebagai (1) bahasa resmi dalam penyelnggaraan kehidupan negara dan pemerintahan, (2) bahasa pengantar pada semua jenis dan jenjang pendidikan, (dengan catatan tambahan tentang dijadikannya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar sampai perguruan tinggi), (3) bahasa perhubungan nasional (terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional), (4) sarana pengembangan ipteks, dan (5) sarana pengembangan kebudayaan[31].

Berdasarkan bahasa negara itu, kedudukan bahasa Indonesia sebagai media pengembang ipteks dan budaya dikukuhkan, dibina, dan dikembangkan. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ipteks diorientasikan pada dua hal, yakni (i) terbentuknya bahasa Indonesia yang memiliki daya ungkap terhadap berbagai konsep ipteks, dan (ii) terbentuknya rasa bangga bahasa pengguna bahasa Indonesia sebagai representasi tumbuhnya kepribadian nasional[32].

Cara berpikir masyarakat benar-benar ditentukan oleh bahasa. Misalnya, seorang anak jawa sejak kecil sudah belajar (melalui bahasa jawa), jaran (kuda) itu berbeda dengan belo (anak kuda). “Penggolongan” atas satu hal atau satu jenis binatang ini menjadi “kisi-kisi” dalam benaknya. Kelak jika ia belajar bahasa Indonesia, ada kemungkinan ia selalu bertanya, “Apa bahasa Indonesianya belo?” juga kalau kelak belajar bahasa Inggris[33].

Orang-orang jawa yang konon suka bersikap dan berperilaku halus, tentu saja dalam kondisi yang wajar, juga akan memiliki wujud-wujud bahasa yang serba halus sifatnya. Orang bertutur dalam masyarakat jawa, perlu mempertimbangkan tingkatan-tingkatan kehalusannya, dengan piranti tingkat tutur (speech level) atau kesantunan yang sosiolinguistik sifatnya[34].

Perbedaan bahasa, dalam beberapa hal, dapat mengakibatkan perbedaan pandangan tentang dunia. Misalnya, orang Hopi (Indian) mempunyai kebiasaan menganggapi alam sekitarnya dengan cara yang agak berbeda denga penutur bahasa Inggris. Orang Indonesia akan mengucapkan “Selamat malam” jika malam sudah tiba atau masih gelap, apakah pada pukul 19.00 atau pukul 01.00, karena dalam benak mereka gelap ada kaitannya dengan malam. Orang inggris untuk masing-masing waktu tersebut akan mengucapkan “Good evening” (selamat petang) dan “Good morning” (selamat pagi). Konsep tentang waktu memang berbeda bagi orang Indonesia dan orang Inggris. Memang hal ini bisa menimbulkan sedikit kesulitan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami ekspresi-ekspresi mereka. Tetapi mereka pasti bisa mengatasi[35].

Di suatu media massa (Abadi, 1971) seorang bernama Kang En (mungkin nama samaran) menulis sebuah artikel yang isinya agak provokatif, yaitu: “Bahasa yang Merusak Mental Bangsa”. Hal ini perlu diketengahkan sebab tulisan itu tampaknya beranjak dari hipotesis Whorf-Sapir. Ada tiga persoalan dalam bahasa Indonesia yang dikemukakan oleh Kang-En, yaitu: (1) masalah kata sapaan, (2) masalah kala (tenses), dan (3) salam (greeting)[36].

  1. Masalah Kata Sapaan

Di sana dikemukakan oleh kang En bahwa kata sapaan dalam bahasa Indonesia (Bapak, Ibu, Saudara) meminjam kata dari perbendaharaan hubungan kekerabatan/famili (bapak, ibu, saudara). Hal ini tampaknya ada suatu dampak yang signifikan, yakni mengakibatkan masyarakat pemakaiannya memiliki sifat familier dan nepotis. Mungkinkah berkembangnya nepotisme di negeri ini disebabkan oleh perilaku bahasa? Jawabanya masih harus dikaji secara cermat dengan data yang lengkap[37].

  1. Masalah Kala (tenses)

Masalah kedua yang juga dikemukakan oleh Kang En adalah perihal kala (tenses). Bahasa Indonesia sebagai bahasa tipe aglunatif memang tidak mengenal tenses (kala). Hal ini telah mengakibatkan masyarakatnya kurang begitu peduli waktu dan kurang menghargai waktu atau kurang disiplin dalam masalah waktu. Kenyataan memang banyak yang menunjukkan kebenaran prasangka demikian. Jam karet memang hampir merupakan budaya bangsa. Akan tetapi apakah penyebabnya memang betul dari perilaku bahasa Indonesia yang tidak mengenal tenses? Apakah bahasa-bahasa lain yang setipe dengan bahasa Indonesia perilaku bangsanya juga sama dengan perilaku bangsa Indonesia? Jawabnya sudah barang tentu tidak hanya spontanitas, tetapi harus diteliti dan dibuktikan dengan data yang lengkap dan otentik[38].

  1. Masalah Salam (greeting)

Salam kita yang paling populer adalah Apa kabar? Atau Hallo, apa kabar? Yang menjadi persoalan ialah, samakah perilaku bangsa yang menggunakan salam Apa kabar? Dengan perilaku bangsa yang menggunakan salam How do you do! Dampak pemakaian kata do tampaknya berbeda dengan pemakaian kata apa kabar. Kata do memiliki sugesti untuk berbuat sesuatu, sedangkan apa kabar memiliki sugesti untuk “memburu berita”. Bangsa yang menggunakan How do you do! Sangat terbiasa bekerja dan bekerja, misalnya di dalam perjalanan dengan bus atau kereta api selalu tidak luput dari aktivitas membaca buku. Sebaliknya bangsa yang menggunakan salam Apa kabar! sangat umum dijumpai selalu ngobrol di dalam perjalanan sejenis. Apaka ini merupakan bukti bahwa perilaku bangsa ini telah ditentukan oleh perilaku bahasanya, khususnya dalam menggunakan salam? Jawabnya harus diteliti lebih lanjut, agar ketahuan benar salahnya hipotesis Whorf-Sapir tersebut[39].

Bertolak dari gagasan Koentjaraningrat (1974), ada tiga sikap budaya yang erat kaitannya dengan sikap bahasa yang positif. Bahkan sikap bahasa itu boleh dikatakan terjabar dari sikap budaya yang perlu dikembangkan dan dikukuhkan. Sikap budaya itu dapat juga diusahakan menjadi ciri jati diri warga negara Indonesia. Perincian sika budaya tersebut ialah sebagai berikut[40]:

  1. Kebanggaan kepada produk Indonesia dapat lambat-laun membawa serta kebanggaan kepada bahasa Indonesia dan bahasa etnis Nusantara[41].
  2. Kesetiaan kepada prinsip hidup manusia Indonesia dapat bermuara pada kesetiaan kepada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional[42].
  3. Kesadaran akan norma moralitas, hukum, dan disiplin akan menumbuhkan kesadaran akan norma bahasa yang adab[43].

Namun disisi lain adapula beberapa sikap budaya yang menjadi segi negatif ciri jati diri bangsa Indonesia dan sangat perlu diubah, diantaranya sebagai berikut:

  1. Sikap budaya tuna-harga-diri terhadap bangsa asing yang menulari sikap terhadap bahasa indonesia sebagai bahasa yang belum bermartabat. Salah satu sikap itu terlihat selama konferensi internasional Uni Parlemen di Jakarta baru-baru ini. pada dinding yang melatari meja pimpinan sidang terpampang nama kongres dalam berbagai bahasa. Yang menyimpang dari kebiasaan internasional ialah pemasangan nama konferensi dalam bahasa Indonesia, justru di tempat yang paling bawah. Ini namanya tidak menjunjung bahasa persatuan[44].
  2. Sikap budaya yang meremehkan mutu yang berakibat tumbuhnya sikap kepuasan terhadap bahasa yang asal jadi. Contohnya dapat disaksikan jika orang yang harus memakai bahasa Indonesia di muka umum, memagari dirinya sambil berdalih “maaf, jika bahasa saya kurang baik; maklum, saya bukan ahli bahasa”. Apakah hanya ahli bahasa saja yang harus berbahasa dengan baik?[45]
  3. Sikap budaya yang suka berlaku latah yang tercermin dalam sikap bahasa untuk membenarkan salah kaprah dalam pemakaian bahasa. Sikap bahasa ini akan membenarkan pemakaian kata nominator sebagai padanan kata nominee yang sebenarnya harus menjadi ternominasi atau calonan. Salah kaprah yang berasal dari kelatahan itu dianggap tidak perlu dibetulkan lagi[46].
  4. Sikap budaya suka menerabas/jalan pintas yang sejalan dengan anggapan bahwa kemahiran berbahasa dapat dicapai tanpa bertekun[47].
  5. Sikap budaya menjauhi disiplin sejalan dengan pendirian bahwa kaidah bahasa tidak perlu dipatuhi karena “bahasa itu untuk manusia, bukan sebaliknya manusia untuk bahasa”[48].
  6. Sikap budaya enggan bertanggung jawab sejalan dengan pikiran bahwa urusan bahasa bukan tanggung jawab masyarakat, melainkan tanggung jawab ahli bahasa[49].

Dengan kenyataan yang demikian ini, maka dapat ditegaskan dari teori relativitas bahasa milik Sapir-Whorf yakni bahwa bahasa yang selama ini hanya dipandang sebagai peranti pentransmisi kebudayaan, terbukti memiliki peran besar sekali karena justru sebagai penentu kebudayaan itu sendiri[50].


 

KESIMPULAN

Sudah sejak sangat lama diperbincangkan oleh banyak orang jika bahasa itu dipandang saling berpautan dengan kebudayaan. Dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia disini membuat bahasa benar-benar menentukan cara berpikir masyarakat, demikian pula dengan perbedaan bahasa juga dapat mengakibatkan perbedaan pandangan tentang dunia dalam beberapa hal. Hipotesis Sapir-Whorf yang biasa dikenal dengan teori relativitas bahasa dan determinasi kebudayaan disitu menyatakan jika perbedaan berpikir disebabkan oleh perbedaan bahasa, jika dibuat untuk menilik ke bahasa Indonesia khususnya serta beberapa bahasa yang ada di negara Indonesia memang ada beberapa hal yang bisa dibuat menjadi rujukan atas hipotesis ini, namun dengan hipotesis ini pun bangsa Indonesia khususnya serta yang mempergunakan bahasa-bahasa di Indonesia bisa dijadikan suatu pelajaran berharga sebab berangkat dari hipotesis ini bahwasannya bahasa dipandang berpengaruh besar terhadap kultur yang mewadahi lantaran bahasa menjadi penentu cara berpikir individu-individunya, bahasa berpengaruh besar terhadap kebudayaan serta menentukan wujud-wujud dari kebudayaannya.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aslinda dan Leni Syafyahya. Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007).

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004).

Chaer, Abdul. Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).

Finoza, Lamuddin. Komposisi Bahasa Indonesia (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2007).

Indah, Rohmani Nur dan Abdurrahman. Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008).

Purwo, Bambang Kaswanti Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010).

Rahardi, Kunjana. Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006).

Rusmaji, Oscar. Aspek – Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995).

Samsuri. Analisa Bahasa; memahami bahasa secara ilmiah (Jakarta: Erlangga, 1978).

Soeparno. Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002).

Sumarsono dan Paina Partana. Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007).

Suwignyo, Heri dan Anang Santoso. Bahasa Indonesia Keilmuan; Berbasis Area isi dan Ilmu (Malang: UMM Press, 2008).


[1] Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2007), 1.

[2] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 46.

[3] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  52.

[4] Kunjana Rahardi, Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 60.

[5] Oscar Rusmaji, Aspek – Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995), 1.

[6] Soeparno, Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 5.

[7] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 46.

[8] Soeparno, Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 1.

[9] Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), 1-2.

[10] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 30-31.

[11] Samsuri, Analisa Bahasa; memahami bahasa secara ilmiah (Jakarta: Erlangga, 1978), 4-5.

[12] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  5.

[13] Oscar Rusmaji, Aspek – Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995), 14-15.

[14] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  5.

[15] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 18.

[16] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 18.

[17] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  5.

[18] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  5-6.

[19] Ibid,  6.

[20] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 166.

[21] Kunjana Rahardi, Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 60.

[22] Kunjana Rahardi, Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 143.

[23] Soeparno, Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 5.

[24] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 166-167.

[25] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  52.

[26] Ibid,  52.

[27] Ibid,  52-53.

[28] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 59.

[29] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 167.

[30] Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), 94.

[31] Heri Suwignyo dan Anang Santoso, Bahasa Indonesia Keilmuan; Berbasis Area isi dan Ilmu (Malang: UMM Press, 2008), 2.

[32] Ibid, 3.

[33] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 59.

[34] Kunjana Rahardi, Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 144.

[35] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 60-61.

[36] Soeparno, Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 6.

[37] Ibid, 6.

[38] Ibid, 6-7.

[39] Soeparno, Dasar – Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 7.

[40] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201.

[41] Ibid, 201.

[42] Ibid, 201.

[43] Ibid, 201.

[44] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201.

[45] Ibid, 201.

[46] Ibid, 201.

[47] Ibid, 201.

[48] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201.

[49] Ibid, 201.

[50] Kunjana Rahardi, Dimensi – Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 143.

Categories: Psycholinguistics | Tags: , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “HIPOTESIS SAPIR – WHORF DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA-BAHASA DI INDONESIA

  1. Bambang

    Ini baru artikel yang mantap…. referensinya detail!
    terimakasih bisa menambah refensi kajian mengenai persoalan ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,678 other followers

%d bloggers like this: