TINGKATAN dan KESALAHAN BACA AL-QURAN


TINGKATAN dan KESALAHAN BACA AL-QURAN

 

Tingkatan baca al-quran disini bisa digambarkan dengan cepat dan lambatnya membaca al-quran. Ahli tajwid menyepakati tingkat baca ada 3 tingkatan yakni; tahqiq (التحقيق), hadzr (الحذر), dan tadwir (التدوير). sedangkan Tartil (الترتيل) ialah mencakup keseluruhan masing-masing tingkatan yakni tahqiq (التحقيق), hadzr (الحذر), dan tadwir (التدوير). Tartil sendiri secara umum ialah membaca al quran dengan logat arab beserta suara-suaranya dan memperindah lafal serta suara menurt kemampuan, hal tersebut dilakukan dengan mempraktekan hukum-hukum tajwid, begitu halnya mencakup pule menjaga waqof dan ibtida’ untuk meresapi makna-makna.

Adapun penjelasan dari tingkatan-tingkatan tersebut  adalah sebagai berikut:

1.      Tahqiq (التحقيق)

Ialah memberi hak pada tiap huruf, memperjelas huruf, mengeluarkan huruf dari huruf yang lain dengan saktah, pelan dan tenangserta memperhatikan yang memperbolehkan untuk waqof.

2.      Hadzr (الحذر)

Ialah meningkatkan bacaan dalam hal kecepatan dan penyamaran dengan mendirikan I’rob serta menjaga kebenaran pelafalan dan pemantapan huruf.

3.      Tadwir (التدوير)

Ialah menyeimbangkan antara dua tingkatan yakni antara tahqiq dengan hadzr.

Kesalahan baca al quran biasa disebut dengan istilah lahn (اللحن). Lahn adalah kesalahan dan menyimpang dari kebenaran. lahn (اللحن) ada 2 macam yakni:

1.      Lahn Jali (اللحن الجلي)

2.      Lahn Khofi (اللحن الخفي)

 

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

 

1.       Lahn Jali (اللحن الجلي)

Adalah kesalahan pada lafad yang merusak dari kebiasaan (yakni kebiasaan ahli qiro’ah) baik merusak makna ataupun tidak. Kesalahan ini dinamai dengan Jali karena kesalahan itu membuat kerusakan yang Nampak jelas yang sama diketahui oleh ulama qiro’ah dan lainya. Kesalahan tersebut bisa berada pada beberapa hal yakni:

-          I’rob (yakni harokat dan sukun, termasuk juga tidak mentasydidkan yang ditasydid atau sebaliknya mentasydid yang tidak ditasydid, serta memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek)

-          Huruf (dengan meletakkan huruf di tempat yang lain, mengurangi huruf, menambah huruf, serta mendahulukan atau mengakhirkan huruf)

-          Kata dan Kalimat (dengan meletakkan kata atau kalimat di tempat lain, atau menguranginya, menambahnya, mendahulukannya, atau mengakhirkannya.

-          Waqof dan tempat berhenti memulai.

Contoh lahn/kesalahan ini pada I’rob ialah membaca lafal (أنعمتَ) dengan bacaan ((أنعمتِ، أنعمتُ، أَنْعَمَتْ)). Contoh kesalahan pada huruf ialah dengan membaca ((ألعمت، أنأمت)) semisalnya pula seperti membaca (يوم الدين) dengan bacaan ((يوم التين)), serta membaca (المستقيم) dengan bacaan ((المسطقيم، المصتقيم، المستغيم)). Contoh mengurangi huruf adalah membaca (أنعمت) dengan bacaan ((أَنَمْتَ)) atau dengan memutus hamzah qoth’ darinya seperti dengan membaca ((صراط الذِيْنَنْعَمْتَ)).

 

2.      Lahn Khofi (اللحن الخفي)

Adalah kesalahan pada lafad yang merusak kebiasaan ahli qiro’at tapi tidak merusak makna (dan tidak pula merusak bahasa maupun I’rob) dan tidak bisa membedakannya kecuali orang-orang yang mengerti ilmu qiro’ah.

Kesalahan pada pengucapan dhommah dan kasroh

Termasuk kesalahan ringan yang umum pada orang awam adalah menghimpun kedua bibir saat mengucap huruf yang dhommah, tidak merenggangkan bibir bawah (menempelkan gusi bawah denganmerendahkan pertemuan dua bibir serta menempelkan keduanya pada ujung gigi seri bagian bawah) ketika mengucap huruf yang di kasroh, lantas dhommah terdengar dengan suara antara dhommah dan fathah, dan terdengar kasroh dengan suara antara kasroh dan fathah. Khususnya ketika huruf dhommah atau kasroh mengikuti huruf yang disukun seperti ((عليكم)), ((أنتم)), ((قُل)), ((لم يلد)), ((به)). Dan begitu pula orang yan membaca al quran terhitung salah ketika tidak memantapkan harokat dhommah pada huruf yang mengikuti wawu seperti contoh (إياك نعبد و إياك نستعين). Dan wajib menghimpunkedua bibir sesaat saja seukuran satu harokat untuk mengucapkan dal yang di dhommah; dan selanjutnya menghimpun kedua bibir sesaat yang lain untuk mengucap wawu, kemudian menfathah keduanya untuk menjelaskan fathah. Maka menempatkan harokat dal dengan menghimpun kedua bibir, dan melanjutkan menghimpun keduanya untuk mengucap wawu yang difathah setelahnya seukuran satu harokat adalah termasuk mentajwid bacaan. Sedang meremehkan penempatan ini dengan mengucap dua hurf seakan-akan awalnya disukun (seperti andai si pembaca membaca ((إياك نعبدْ و إياك نستعين)) maka dihitung sebagai kesalahan dan harus dihindari.

Termasuk dari kesalahan ringan adalah mensukun huruf fa’ pada firman Allah (كفوا أحد) maka jika si pembaca tidak mengeluarkan dhommah ketika mengucap fa’ hingga yang keluar seakan-akan adalah sukun maka itu adalah kesalahan, dan semisalnya adalah mensukun za’ pada (هزوا).

Termasuk kesalahan ringan pula adalah Lahn Qobih (لحن قبيح) yakni dengan selalu memunculkan gunnah saat membaca al quran padahal ghunnah wajib ketika mengucap beberapa huruf saja dan tidak boleh ketika mengucap huruf yang lain.

 

 

*diintisarikan dari kitab haqqut tilawah…..

Categories: Tajweed | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,639 other followers

%d bloggers like this: